
Di sebuah rumah sederhana di Desa Pulau Betung, Jambi, hiduplah Alya Herlita, seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang kini harus kehilangan dunianya yang berwarna. Alya yang dulu dikenal sebagai anak yang lincah dan ceria, kini hanya bisa terdiam dalam kegelapan setelah tumor otak menyerang saraf matanya hingga ia mengalami kebutaan.
Duka ini terasa semakin menyesakkan dada karena Alya bukanlah anak yang terlahir dalam kondisi demikian. Ia terlahir normal, sehat, dan pernah merasakan indahnya warna dunia serta bangku sekolah hingga kelas 3 SD. Namun, kenyataan pahit tiba-tiba merenggut penglihatannya, mengubah hidupnya yang cerah menjadi gelap gulita dalam sekejap mata.
Semua bermula saat Alya berusia 8 tahun, ketika kejang dan muntah hebat tiba-tiba menyerang tubuh mungilnya. Sebagai anak dari buruh kebun, perjuangan Alya untuk bertahan hidup sangatlah berat; ia harus menjalani operasi pemasangan selang dari kepala ke usus pada Oktober 2025 demi menyambung nyawa, tepat di saat cahaya di matanya mulai meredup.
Tak berhenti di situ, pada Desember 2025, Alya kembali naik ke meja operasi untuk pengangkatan tumor di kepalanya. Namun, luka hati orang tuanya semakin dalam saat dokter menyatakan bahwa tumor di saraf otaknya tidak bisa diangkat seluruhnya karena risiko kelumpuhan permanen yang sangat besar mengintai Alya.

Langkah kaki Alya menuju sekolah kini terhenti total. Cita-citanya untuk belajar bersama teman-temannya harus terkubur dalam kegelapan karena ia tidak lagi bisa melihat papan tulis maupun buku-buku pelajarannya. Putus sekolah di usia yang sangat belia menjadi beban batin tersendiri bagi Alya dan kedua orang tuanya.

Meski dunianya kini gelap, semangat Alya tidak pernah padam. Di tengah rasa sakit yang mendera, ia masih sering menunjukkan keceriaan, seolah ingin memberikan kekuatan kepada ayah dan ibunya. Ketegaran Alya adalah alasan mengapa keluarga ini terus berjuang meski biaya pengobatan di luar kemampuan sang ayah sebagai petani.
Sang ibu pun tak henti-hentinya memanjatkan doa dan harapan agar putri tercintanya bisa segera sembuh. Harapan terbesarnya adalah melihat Alya sehat kembali, bisa melihat dunia lagi, dan kembali mengenakan seragam sekolahnya. Ia ingin Alya meraih masa depan yang layak, sebagaimana anak-anak lain yang tumbuh sehat tanpa keterbatasan.
Kami percaya, di luar sana ada banyak hati yang terketuk untuk membantu Alya kembali menjemput cahayanya. Bagi setiap orang baik yang bersedia berbagi rezeki, kami berdoa semoga Allah melancarkan rezeki Anda di dunia maupun di akhirat, serta membalas kebaikan Anda dengan keberkahan yang luar biasa dan tak terputus. Sedikit bantuan dari Anda adalah harapan besar bagi Alya untuk terus menjalani pengobatan dan terapi. Mari kita menjadi tangan-tangan kebaikan yang menuntun Alya keluar dari kegelapan, agar ia bisa melihat kembali senyum ibunya dan melanjutkan cita-citanya yang sempat tertunda.

Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
