
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, Risma Rama Dhani seharusnya sedang menikmati indahnya masa remaja bersama teman-teman sekolahnya. Namun, siswi kelas II SMA asal Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Banyuasin ini harus menghadapi kenyataan hidup yang teramat pahit. Langkah kakinya yang ceria menuju masa depan kini terhenti, digantikan oleh perjuangan melelahkan melawan penyakit mematikan: Gagal Ginjal Kronik stadium akhir yang tiba-tiba menggerogoti tubuh ringkihnya.
Kisah pilu ini bermula tak lama setelah hari kemenangan Idul Fitri pada April 2026 lalu. Sang ayah, Bapak Eko Thomas, menyadari ada hal yang salah ketika tubuh anak perempuannya mulai menunjukkan gejala-gejala aneh. Kaki Risma perlahan membengkak, perutnya didera rasa sakit yang luar biasa, hingga dadanya terasa teramat sesak untuk sekadar menghirup udara. Tak ada yang menyangka bahwa lemas yang dirasakan Risma saat memaksakan diri puasa penuh satu bulan selama Ramadhan kemarin adalah sinyal darurat dari tubuhnya.
Melihat kondisi putrinya yang kian kritis, Pak Thomas bergegas melarikan Risma ke IGD RS Bunda Jakabaring. Namun, karena keterbatasan peralatan medis yang ada di sana, Risma harus segera dirujuk ke rumah sakit pusat, RSMH Palembang. Di sanalah hancur hati kedua orang tuanya saat dokter mengeluarkan vonis bahwa ginjal Risma sudah tidak lagi berfungsi. Kini, baru satu bulan berlalu sejak diagnosis itu keluar, remaja malang ini sudah harus melewati 5 kali tindakan cuci darah (hemodialisis) yang menyakitkan.
Musibah ini seketika melumpuhkan perekonomian keluarga kecil mereka. Pak Thomas yang sehari-harinya bekerja sebagai petani kecil terpaksa melepaskan cangkulnya. Semenjak Risma jatuh sakit, ayah dan ibunya harus fokus total mendampingi dan menjaga Risma di rumah sakit yang jaraknya sangat jauh dari desa mereka. Akibatnya, mereka kini kehilangan mata pencaharian utama dan tidak lagi memiliki penghasilan untuk menyambung hidup.

Di tengah situasi yang serba kalut ini, ada hati lain yang ikut terkorbankan. Risma memiliki seorang adik yang masih duduk di bangku sekolah. Karena kedua orang tuanya harus berada di rumah sakit demi menyambung nyawa Risma, sang adik terpaksa ditinggal di desa dan dirawat oleh nenek mereka yang kondisinya sudah sangat sepuh. Perpisahan dan jarak ini menambah beban kebatinan yang teramat berat bagi Pak Thomas dan istrinya.

Himpitan ekonomi keluarga petani ini kian terasa mencekik karena status jaminan kesehatan mereka. Untuk berobat, mereka tidak memiliki BPJS gratis dari pemerintah, melainkan masih harus membayar iuran BPJS Mandiri setiap bulannya secara tertatih-tatih. Biaya iuran bulanan, ditambah ongkos transportasi bolak-balik dari Muara Sugihan ke Palembang, serta kebutuhan obat-obatan luar yang tidak ditanggung, membuat pundak Pak Thomas terasa runtuh. Hingga saat ini, belum ada satu pun bantuan yang datang mengetuk pintu rumah mereka.
\\\\\\\"Harapan saya hanya ingin Risma cepat sembuh. Masa depannya masih sangat panjang, dia harus menyelesaikan sekolah SMA-nya,\\\\\\\" bisik Pak Thomas dengan suara bergetar menahan tangis. Sebagai seorang ayah, hatinya teriris melihat putri tercintanya yang lahir pada 16 September 2008 itu harus terikat pada mesin cuci darah seumur hidupnya, sementara ia sendiri sudah kehabisan cara untuk mencari biaya pengobatan lanjutan.
Sahabat dan #OrangBaik, bapak Thomas tidak bisa berjuang sendirian menyelamatkan nyawa putrinya. Melalui galang dana ini, pihak keluarga mengetuk pintu hati Anda semua dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas setiap doa serta bantuan yang diberikan. Mari kita satukan hati, ulurkan tangan untuk meringankan biaya pengobatan Risma agar ia bisa terbebas dari rasa sesak, kembali ke bangku sekolah, dan merajut kembali impian masa depannya yang sempat terhenti.
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
