
Dari sudut Desa Selat, Jambi, keceriaan biasanya memenuhi hari-hari kecil Muhammad Zhian Joban. Di usianya yang baru 2 tahun 9 bulan, Zhian dikenal sebagai anak yang sangat aktif dan penuh tawa. Namun, sejak enam bulan lalu, langkah kaki kecilnya yang lincah mendadak terhenti. Tubuh mungilnya yang biasa tak bisa diam, kini seringkali lemas tak bertenaga di pelukan sang ibu.
Kekhawatiran keluarga memuncak saat gejala-gejala berat mulai bermunculan satu per satu. Seluruh kulit dan tubuhnya berubah pucat kekuningan, tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam darahnya. Keadaan semakin mencekam bagi orang tuanya ketika melihat Zhian mengalami pendarahan hebat pada bagian giginya, sebuah kondisi yang menandakan betapa rapuhnya pertahanan tubuh bocah mungil ini akibat serangan sel jahat dari dalam.
Tanpa menunggu lama, orang tuanya segera membawa Zhian ke rumah sakit di Jambi. Kabar yang datang bak petir di siang bolong: Zhian didiagnosa menderita Leukemia. Perjuangan berat harus dihadapi oleh bocah sekecil itu, menghadapi diagnosa yang mengubah seluruh rencana masa depannya dalam sekejap mata.
Perjuangan tidak berhenti di situ. Karena keterbatasan alat medis dan fasilitas kemoterapi di Jambi, Zhian harus dirujuk jauh ke Palembang. Perjalanan ratusan kilometer ini bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi juga secara mental bagi keluarga. Bayangkan seorang balita yang seharusnya bermain di halaman rumah, kini harus terbaring di ranjang rumah sakit yang dingin, jauh dari kenyamanan kampung halamannya.

Di balik perjuangan Zhian, ada sosok ayah yang bekerja keras sebagai buruh harian lepas. Penghasilannya yang tak menentu kini harus dibagi antara kebutuhan dapur dan biaya pengobatan yang sangat besar. Sementara itu, sang ibu yang merupakan seorang ibu rumah tangga, setianya mendampingi di sisi ranjang, mencoba menahan air mata setiap kali melihat jarum infus dan prosedur medis menyentuh tubuh anaknya.

Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat mereka kini berada di titik sulit. Biaya kemoterapi, transportasi antar provinsi, hingga kebutuhan nutrisi khusus dan obat-obatan di luar tanggungan menjadi beban yang sangat berat. Ayahnya terus berikhtiar mencari rezeki, namun biaya penanganan kanker bukanlah angka yang mudah dikumpulkan sendirian oleh seorang pekerja harian.
Meski tubuhnya sedang berjuang melawan sel kanker, semangat Zhian terkadang masih terpancar dari matanya yang bening. Ia masih ingin sembuh, ingin kembali berlari di desanya, dan tumbuh besar seperti anak-anak lainnya. Perjalanan pengobatan ini masih sangat panjang, dan Zhian tidak bisa berjuang sendirian. Mari kita bersatu memberikan kekuatan bagi sang pejuang kecil dari Jambi ini agar ia bisa kembali ceria dan meraih masa depannya.
Kelak, saat Zhian sudah dewasa, ia akan menjadi saksi hidup tentang kekuatan doa dan kebaikan hati orang-orang yang telah membantunya di saat tersulit.
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
