
Campaign ini sudah melewati tanggal berakhir, sehingga donasi tidak dapat dilakukan lagi.
Tanggal berakhir: 26 Aug 2026
Rasa sakit yang tak tertahankan kini harus akrab menemani hari-hari Ibu Ana Fitriyah Rohma. Wanita paruh baya asal Desa Kampung Baru, Kecamatan Mesuji Makmur, Ogan Komering Ilir (OKI) ini, sudah delapan bulan lamanya bertaruh nyawa melawan penyakit mematikan: Gagal Ginjal Kronis. Ibu Ana yang dulunya aktif mengurus keluarga, kini harus melihat tubuhnya kian hari kian melemah akibat fungsi organ vitalnya yang perlahan terus menurun.
Kisah pilu ini bermula sekitar bulan Oktober tahun lalu, saat Ibu Ana mulai merasakan gejala-gejala aneh pada tubuhnya. Pinggangnya didera rasa sakit yang luar biasa, disusul dengan kondisi kencing yang bercampur darah. Tak hanya itu, ia juga kerap merasakan mual dan muntah.
Kondisi fisik kian memburuk, pihak keluarga yang panik langsung melarikan Ibu Ana ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat. Namun, karena keterbatasan alat medis yang ada di daerah, dokter menyatakan kondisi ginjal Ibu Ana sudah terlampau kritis. Detik itu juga, runtuh hati keluarga saat mendengar Ibu Ana harus segera dirujuk ke rumah sakit besar di Palembang demi menjalani tindakan cuci darah (hemodialisis) untuk menyambung hidupnya.
Perjalanan jauh demi menjemput kesembuhan ini seketika mengubah total garis hidup keluarga kecil ini. Sejak bulan Oktober hingga hari ini, Ibu Ana terpaksa harus bertahan dan menginap di salah satu rumah singgah di Palembang yang lokasinya dekat dengan rumah sakit. Beruntung, di tengah badai ujian yang begitu hebat, ada sosok suami tercinta yang dengan setia selalu berada di sisi Ibu Ana. Sang suami bahkan rela melepas pekerjaannya sebagai buruh harian lepas demi fokus total menjaga dan menemani setiap proses pengobatan sang istri.

Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk membayar biaya medis yang terus menuntut. Karena sang suami sudah tidak lagi bekerja dan kehilangan pemasukan, mereka benar-benar terjepit di dalam jurang kemiskinan. Demi menutupi biaya operasional pengobatan, ongkos bolak-balik, serta obat-obatan luar yang menguras kantong, keluarga ini terpaksa mengambil keputusan paling berat: menjual satu-satunya aset rumah yang mereka miliki di dusun halaman kampung halaman. Kini, mereka tak lagi memiliki tempat bernaung yang utuh.

Duka keluarga ini kian terasa menyayat hati jika mengingat buah hati mereka. Pasangan suami istri ini memiliki seorang anak yang saat ini baru saja menginjak bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Karena kedua orang tuanya harus menetap di Palembang demi berobat, bocah kecil yang masih sangat membutuhkan pelukan hangat ibunya itu terpaksa ditinggal di dusun dan dititipkan kepada sang nenek. Rasa rindu yang membuncah seringkali membuat Ibu Ana menangis diam-diam di sela-sela waktu cuci darahnya.
Di dalam hati kecilnya, Ibu Ana terus melangitkan doa dan berharap akan datangnya sebuah keajaiban. \"Saya hanya ingin sembuh dan tidak perlu cuci darah lagi. Saya mau pulang ke dusun untuk menemani anak saya sekolah, mengantarkannya ke gerbang TK, dan kembali menyiapkan segala keperluan kerja untuk suami saya seperti dulu,\" bisik Ibu Ana dengan mata berkaca-kaca menahan kerinduan yang mendalam.
Sahabat dan #OrangBaik, perjuangan Ibu Ana untuk bisa kembali pulang ke pelukan anaknya tidak bisa ia pikul sendirian. Melalui galang dana ini, Ibu Ana mengetuk pintu hati Anda semua untuk memohon bantuan doa serta uluran materi demi mengurangi beban biaya operasional selama pengobatan yang tidak tentu masanya ini. Mari kita satukan hati dan rapatkan barisan, karena di luar sana masih banyak pasien dan anak-anak kurang mampu lainnya yang jiwanya terancam dan sangat memerlukan uluran tangan dari kita semua.

Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
